Jakarta: S, pelaku pelecehan seksual terhadap anak di bawah umur melalui game online Free Fire mengiming-imingi dan mengancam korban melakukan video call sex (VCS). Video porno itu dikumpulkan pelaku untuk koleksi pribadi.

“Jadi memang saat ini masih berkisar untuk kepentingan pribadi,” kata Kasubdit I Direktorat Tindak Pidana Siber (Dittipidsiber) Bareskrim Polri Kombes Reinhard Hutagaol saat dikonfirmasi, Rabu, 1 Desember 2021.

Reinhard mengaku belum menemukan bukti video porno anak di bawah umur itu dijual ke pihak lain. Polisi baru mengetahui video porno itu untuk tontonan pelaku seorang.

Reinhard mengatakan pelaku sehari-hari bekerja di bagan tempat penangkapan ikan. S setiap hari berada di tengah laut.

“Jadi, kami untuk ke tempat yang bersangkutan itu harus naik kapal dulu baru dapat di situ. Kalau di Kalimantan itu ada bagan-bagan (pangkalan). Jadi, dia di situ,” ungkap Reinhard.

Total ada 11 anak perempuan menjadi korban dalam kasus ini. Sebanyak tujuh korban lainnya masih dicari.

Iklan –
Pelaku S ditangkap di Kecamatan Berau, Kalimantan Timur, pada 9 Oktober 2021. Dia dijerat Pasal 82 Jo Pasal 76E Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak dan atau Membujuk Anak Melakukan Perbuatan Cabul. Dengan hukuman paling singkat 5 tahun dan paling lama 15 tahun penjara dan denda Rp5 miliar.

Kemudian, Pasal 29 Jo Pasal 4 ayat 1 dan/atau Pasal 37 Undang-Undang Nomor 44 Tahun 2008 tentang Pornografi dan/atau Melibatkan Anak dalam Objek Pornografi. Dengan ancaman hukuman paling lama 12 tahun penjara dan denda Rp250 juta dan paling banyak Rp6 miliar.

Lalu, Pasal 45 ayat 1 Jo Pasal 27 ayat 1 Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2016 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE).

Sumber: Medcom_id

Komentar Anda