Medcom.ID Medcom.ID

 

Jakarta:Ā Fenomena pinjamanĀ onlineĀ (pinjol) ilegal benar-benar menjadi momok mengerikan. Bagaimana tidak, beberapa korban pinjol bahkan rela bunuh diri karena tidak sanggup membayar hutang.

Terbaru, seorang warga Solomarto, Giriwoyo, Wonogiri, Jawa Tengah berinisial WPS, 38, tewas bunuh diri karena teror penagih utang pinjol ilegal.

Keluh Korban Pinjol Ilegal, Pinjam Rp2,5 Juta Beranak Jadi Rp104 Juta

WPS meninggalkan surat wasiat saat bunuh diri. WPS mengaku terlilit hutang hingga puluhan juta rupiah dari 23 pinjol berbeda.

Cara barbar pinjol ilegal menagih hutang

Selain karena tak sanggup membayar hutang dengan bunga yang besar, cara-caraĀ desk collectionĀ alias penagih utang dengan teror secara daring juga membuat korban pinjol semakin tak kuasa menahan malu.

Pasalnya, saat menerima pinjaman, nasabah biasanya sudah menyetujui permintaan izin untuk mengakses data dari pihak pinjol.

Disorot Jokowi, Ini Penampakan Kantor Pinjol yang Diacak-acak Polisi

Oknum penagih hutang akan menyebar ancaman dan teror ketika menagih hutang. Selain itu, karena data-data dan semua informasi nasabah bisa mereka akses, maka aib korban hingga hal-hal yang berbau fitnah bisa dengan mudah disebar ke rekan-rekan, keluarga, hingga kerabat korban.

Cara-cara ini membuat korban makin stres dan depresi sehingga mereka rela untuk bunuh diri.

 

Bedakan pinjol ilegal dengan pinjol legal (resmi OJK)

Ada banyak perbedaan mendasar antara pinjol ilegal dengan pinjol legal yang resmi terdaftar di Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Jika seseorang memang membutuhkan pinjaman, jangan asal tergiur dengan sms blasting yang biasanya jadi modus pinjol ilegal untuk mendapatkan nasabah.

Cara paling mudah untuk mencari tahu pinjol tersebut legal atau tidak adalah dengan cara mengakses situs OJK. “Caranya dengan mengakses website OJK,” ujar Kabag Penerangan Umum Divisi Humas Polri, Kombes Pol Ahmad Ramadhan dikutip dari MetroTV, Sabtu, 16 Oktober 2021.

Merugikan Masyarakat, Kapolri Perintahkan Tindak Tegas Pinjol Illegal

Kemudian, perbedaan lainnya adalah pinjol resmi tidak akan meminta izin mengakses data karena hal tersebut memang dilarang.

“Kemudian, waspada bila ada tawaran permintaan izin untuk mengakses data. Karena, pada pinjol legal (resmi) dilarang mengakses data kontak telepon pengguna,” lanjut Ahmad Ramadhan.

Ia pun mengimbau agar masyarakat jangan mudah percaya dengan tawaran yang tidak masuk akal seperti tawaran bunga rendah dari pinjol ilegal.

Konten Asli

 

Komentar Anda