Trending XIV Trending XIV

Pernah mendengar atau membaca prediksi tren mode setahun ke depan? Kok bisa ya pemerhati mode, majalah gaya hidup, atau brand fesyen bisa tahu tren itu?

Apakah mereka sekadar menebak? Tentu saja tidak.

Dunia mode, kita mengenal yang disebut fashion trend forecasting, yakni prediksi didasarkan pada analisis perilaku konsumen. Para pembuat prediksi ini bisa saja pakar yang bekerja di perusahaan mode atau perusahaan trend forecaster. Hasil analisis mereka inilah yang menjadi dasar menyiapkan koleksi yang tepat sesuai kebutuhan konsumen saat produk itu dilepas ke pasar.

Cara fashion trend forecaster memprediksi tren

Fashion trend forecaster berperan memprediksi model busana yang kira-kira akan menarik perhatian konsumen. Prediksi ini ada yang jangka pendek untuk dua tahun ke depan dan ada yang jangka panjang hingga lima tahun mendatang.

Prediksi ini dibuat melalui riset pasar serta melihat perkembangan fenomena sosial dan budaya di suatu negara. Lalu hasilnya dibandingkan dengan data-data masa sebelumnya yang sudah tersedia untuk membuat sebuah laporan perkiraan.

Laporan ini biasanya dibuat dalam bentuk moodboard yang berisi beberapa elemen yang perlu diprediksi akan datang seperti bahan, warna, motif, serta shape and silhouette (bentuk luar pakaian).

Laporan tersebut yang dijadikan oleh brand, khususnya para desainer untuk merancang dan mengurasi koleksi mereka di tahun tersebut. Selain desainer, para pelaku di industri fesyen seperti buyer juga memakai laporan itu untuk memilih item yang akan mereka beli agar nantinya sesuai dengan permintaan pasar pada periode waktu yang ada dalam prediksi tadi.

Mengintip data perusahaan trend forecaster

Rumah mode besar biasanya memiliki pakar prediksi tren sendiri. Mereka juga akan bekerja sama dengan perusahaan atau agensi yang berspesialisasi memprakirakan tren.

Salah satu contoh perusahaan itu adalah World’s Global Style Network (WGSN). Termasuk pemain besar dalam trend forecaster di dunia yang analisisnya merambah hingga ke tren barang konsumsi dan otomotif.

Khusus fesyen, WGSN, mereka bekerja sama dengan merek ternama dan desainer terkenal sehingga bisa memprediksi tren hingga dua tahun ke depan. Jadi, jangan heran kalau saat ini WGSN sudah menawarkan prediksi tren hingga tahun 2023!

Buat mereka yang punya akses, setiap tahunnya WGSN memberi sekitar empat tema lengkap dengan penjelasan detail penyebab mereka mengangkat tema itu.

Laporan tersebut benar-benar rinci hingga ke desain serta contoh item, warna, dan silhouette. Juga detail seperti trim dan cutting yang diprediksi akan menjadi tren. Bahkan selepas tren itu lewat, WGSN akan memberi ulasan lengkap dari setiap prediksi yang mereka berikan.

Selain WGSN, ada juga Fashion Snoops yang sudah beroperasi selama 20 tahun dan punya perwakilan di 15 negara. Fashion Snoops hanya fokus pada mode dan barang konsumsi saja.

Laporan prediksi WGSN dan Fashion Snoops ini juga dipakai sekolah mode. Para mahasiswa diberikan akses langganan agar bisa belajar memprediksi tren.

Indonesia juga sebenarnya memiliki lembaga yang memprediksi tren fashion dalam negeri. Badan Ekonomi Kreatif membentuk tim yang berisi ahli dan praktisi dari industri kreatif di Indonesia yang diberi nama Indonesia Trend Forecasting (ITF).

ITF menyusun prediksi dengan penelitian lapangan hingga memakai teknologi “data crawling”, ditambah diskusi dengan pakar dan pelaku industri kreatif. Prediksi yang dihasilkan berisi panduan dan inspirasi dalam bentuk, desain, warna, sketsa hingga selera pasar terkini.

ITF menyusun laporan ini karena pelaku industri, desainer, maupun akademisi bidang desain yang selama ini kesulitan mendapatkan referensi trend dalam negeri. Khusus fashion, pada 2017/2018, ITF meluncurkan buku tren Trend Fashion Modest (Muslim) 2017/2018.

ITF terakhir merilis prediksi untuk 2019/2020 sebelum Bekraf dilebur menjadi Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. Namun untuk 2020/2021 belum ada prediksi terbaru yang bisa diakses di situs resminya.

Memprediksi tren fashion lewat peragaan busana

Photo by Raden Prasetya on Unsplash
Photo by Raden Prasetya on Unsplash

Selain lewat perusahaan tren, pakar fesyen juga memprediksi tren lewat trade show seperti Première Vision, dan juga dengan mengamati peragaan busana.

Para forecaster akan melihat item-item apa saja yang menonjol dalam fashion show. Informasi tersebut akan diberikan ke brand dan majalah-majalah fashion. Pada gilirannya, majalah fesyen seperti Vogue, Harper’s Bazaar, Elle, dan Women’s Wear Daily juga bisa menjadi sumber prediksi tren.

Bagaimana caranya menjadi fashion trend forecaster?

Perusahaan biasanya mengisi posisi ini dengan mereka yang punya latar belakang sekolah fashion design, fashion merchandising, atau marketing.

Pengalaman kerja atau magang di perusahaan trend forecasting tentu saja menjadi nilai tambah.

Jika kamu ingin memilih karier di bidang fashion trend forecasting atau punya usaha fesyen, atau ingin jadi influencer mode terdepan, mulailah dengan membaca artikel di majalah fashion seperti Vogue yang membahas tentang koleksi brand atau membahas prediksi tren. Juga perhatikan peragaan busana untuk membaca arah perkembangan mode, karena para desainer, terutama yang terhubung dengan brand besar tentu saja punya akses kepada laporan prediksi para pakar tren fesyen.

Tren Loungewear (Foto: Ririeprams di #Loungewear Challenge 2021 di Haulfits.id)
Tren Loungewear (Foto: Ririeprams di #Loungewear Challenge 2021 di Haulfits.id)

Komentar Anda