Lampung Selatan – Sempat tak mengaku menjadi otak pembunuhan, akhirnya S (17) mengaku telah menyuruh Tersangka MT (34) untuk membunuh Putri Andini (15).

Hingga pada akhirnya, korban yang sebelumnya diperkosa, dibunuh MT dan mayatnya ditinggalkan di rumah kosong Desa Sabah Balau, Tanjung Bintang, Lampung Selatan.

Hal ini dibenarkan Kapolsek Tanjung Bintang Lampung AKP Faria Arista saat dihubungi Lampung Geh. Menurutnya, dari pendalaman lebih lanjut akhirnya S yang pada awalnya berstatus sebagai saksi telah mengakui perbuatannya. S merupakan warga Kota Karang, Teluk Betung Barat, Bandar Lampung.

“S sudah mengaku (membunuh korban). Pengakuannya karena sakit hati karena pernah cek-cok mulut dengan korban,” kata Faria, Jumat (17/12).

Soal beredarnya kabar ‘cinta segitiga’ antara Korban, S, dan kekasih S, Faria membantah kabar tersebut. Ia menyatakan pengakuan dari Tersangka S karena sakit hati dari cek-cok mulut.

“Cinta sagitiga, nggak. Dari pengakuan hanya karena sakit hati. Sementara pengakuan tersangka seperti itu,” tuturnya.

Namun, Faria mengungkapkan dari awal permintaan S terhadap MT memang untuk membunuh Putri Andini warga Kota Karang, Bandar Lampung, dengan bayaran Rp 500 ribu.

Mengenai hubungan tersangka yang secara langsung melakukan pembunuhan, MT warga Jagabaya, Bandar Lampung, MT merupakan teman kencan S.

“MT ini kawan kencan S,” kata Faria.

Tersangka MT juga kenal dengan korban. Bahkan, lanjutnya, setelah dikenalkan oleh tersangka S, korban dan MT juga semakin dekat hingga chating pribadi.

Disinggung latar belakang dari tersangka S, Faria mengatakan S bukan dari keluarga broken home. Sedangkan, korban Putri Andini yang memiliki latar belakang broken home.

“Keluarga S di latar belakangi masalah ekonomi, warga Kota Karang juga. Dia juga putus sekolah sejak SMP,” kata Faria.

Akibat perbuatan yang dilakukan S, ia juga disangkakan pasal berlapis sama seperti MT yang telah ditetapkan sebagai tersangka sebelumnya.

S disangkakan Pasal 340 KUHP sub pasal 338 KUHP sub pasal 80 ayat 3 UU RI nomor 17 tahun 2016 dan pasal 81 ayat 1 UU RI nomor 17 tahun 2016 tentang perlindungan anak.

Meskipun S termasuk anak di bawah umur, pihak kepolisian tetap akan memproses tindak pidana yang dilakukan S.

“Kalo kita tetep sesuai prosedur tindak pidana, kalo vonis karena dia anak di bawah umur itu keputusan Majelis Hakim nantinya,” tutup Faria. [Red]

 

Sumber: Kumparan

Komentar Anda